Back To Allah



Alhamdulillah, setelah tiga tahun menjalani bisnis, Allah masih memberikan kekuatan untuk terus memikul amanah usaha ini. Sebuah usaha yang mudah-mudahan bukan hanya menjadi jalan rezeki untuk keluarga, tetapi juga bisa memberikan manfaat bagi banyak orang, terutama mereka yang mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan bertumbuh bersama. 

Tiga tahun ini mengajarkan satu hal, jalan dunia bisnis ternyata tidak semulus yang dulu saya bayangkan. 

Padahal saya sudah punya pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang yang sama ketika masih menjadi Sales dan karyawan. Tapi ternyata, POV-nya benar-benar berbeda antara menjadi karyawan dan menjadi seorang pebisnis. 

Ketika menjadi karyawan, kita fokus menjual. Ketika menjadi pemilik usaha, kita harus memikirkan semuanya. 

Mencari pelanggan, membangun kepercayaan, melakukan negosiasi, memastikan barang tersedia, mengatur pengiriman, menghadapi vendor, melakukan penagihan, sampai memastikan uang benar-benar masuk ke rekening perusahaan. 

Dan ternyata, tidak semuanya berjalan mulus. 

Kadang mencari pelanggan begitu sulit. Sudah datang, sudah menjelaskan, sudah menawarkan yang terbaik, tapi tetap saja belum dipercaya. 

Ternyata membangun trust itu mahal. Bukan hanya dengan harga yang kompetitif, tetapi dengan waktu, konsistensi, pelayanan, dan pembuktian. 

Ketika kepercayaan mulai terbentuk, tantangan lain muncul dari vendor. Ketika urusan vendor selesai dan barang berhasil dikirim, ternyata masih ada urusan lain: penagihan. 

Ada pelanggan yang awalnya lancar, kemudian pembayarannya mulai tersendat. 

Ada yang harus ditunggu berbulan-bulan. Bahkan ada yang sampai bertahun-tahun. 

Padahal lebih dari 10 tahun berjualan sebagai Sales, tetap saja saya menemukan pelanggan yang komitmennya sulit ditebak. 

Ada yang dulu lancar pembayarannya, sekarang susahnya minta ampun. 

Ada juga yang awalnya ragu, tetapi setelah diberi kesempatan, ternyata justru menjadi pelanggan yang sangat menjaga komitmennya. 

Dari semua itu, saya belajar bahwa bisnis bukan hanya soal angka. Bisnis adalah tentang manusia, karakter, kepercayaan, dan komitmen. 

Dan ternyata, yang paling melelahkan kadang bukan menghadapi pelanggan atau vendor. 

Justru ketika harus menjelaskan kepada orang-orang terdekat, bahkan sahabat sendiri yang menjadi mitra bisnis, tetapi tidak sepenuhnya memahami bagaimana proses sebuah bisnis berjalan. 

Apalagi ketika ada yang ikut berbisnis karena memiliki uang yang dititipkan kepada kita. Dari luar mungkin terlihat sederhana: uang ditaruh, bisnis berjalan, lalu keuntungan datang. 

Padahal di dalamnya ada begitu banyak proses, risiko, keputusan, dan ketidakpastian. 

Kadang ketika bisnis sedang lancar, semuanya terlihat biasa saja. 

Tetapi ketika ada satu masalah, seolah-olah bisnis tidak boleh punya masalah. 

Padahal lupa, di balik kondisi yang terlihat lancar itu ada proses panjang yang juga luar biasa. 

Dari sini saya sadar, mungkin saya memang membutuhkan ekosistem baru. 

Teman-teman sesama pebisnis yang bisa diajak berdiskusi. Bukan hanya tentang omzet dan keuntungan, tetapi tentang keputusan, risiko, masalah, strategi, kegagalan, dan bagaimana tetap tenang ketika keadaan tidak sesuai harapan. 

Tempat untuk saling berbagi ilmu, pemikiran, dan pengalaman. 

Lucunya, kadang justru ketika bertemu rekan-rekan vendor, diskusinya terasa lebih nyambung. Bisa bicara panjang tentang kondisi pasar, pelanggan, harga, piutang, dan berbagai dinamika bisnis. 

Tapi tentu saja tidak mungkin semua isi dapur bisnis dibuka kepada mereka. 

Akhirnya, ingin mengeluh pun rasanya seperti tidak punya tempat. 

Sampai kemudian saya tersadar… 

Saya lupa bahwa masih ada Allah. 

Tempat paling aman untuk bercerita. 

Tempat paling tepat untuk mengeluh. 

Tempat untuk meletakkan semua beban yang kadang tidak sanggup dijelaskan kepada siapa pun. 

Tiga tahun menjalani bisnis mungkin bukan hanya tentang bagaimana meningkatkan omzet, memperbesar perusahaan, atau menambah pelanggan. 

Ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus ditingkatkan: hubungan dengan Allah. 

Back to Allah. 

Kembali kepada Allah. 

Karena semakin besar amanah, semakin besar pula kebutuhan untuk bergantung kepada-Nya. 

Mungkin selama ini terlalu sibuk mencari jalan keluar, sampai lupa meminta kepada Dzat yang membukakan semua jalan. 

Maka hari ini, yang ingin saya kuatkan bukan hanya bisnisnya. 

Tetapi juga hubungan dengan Allah. 

Semoga Allah membimbing setiap keputusan, menjaga setiap langkah, mempertemukan dengan orang-orang baik, menjaga amanah para pelanggan dan mitra, serta memberikan kekuatan ketika bisnis sedang berada di titik yang tidak mudah. 

Karena pada akhirnya, bisnis ini bukan benar-benar milik kita. 

Kita hanya sedang diberi amanah untuk menjaganya. 

Ya Allah, kuatkan pundak ini untuk memikul amanah bisnis ini. 

Jika suatu hari langkah ini terasa berat, jangan biarkan hati ini lupa kepada-Mu. 

Bimbinglah, kuatkanlah, dan jadikanlah usaha ini jalan untuk menghadirkan manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. 

Back to Allah.

Posting Komentar

0 Komentar