Merantau



Tahun 2007 menjadi salah satu tahun yang paling menentukan dalam hidup saya. Usia saya baru delapan belas tahun. Saya baru lulus dari SMK Teknik Elektro, dan seperti kebanyakan anak desa, saya tidak memiliki banyak pilihan. Saya bukan anak orang berada. Saya bukan sarjana, apalagi lulusan universitas ternama. Saya juga tidak memiliki kerabat yang bisa membuka jalan menuju pekerjaan. Yang saya miliki hanyalah selembar ijazah, sebuah ransel sederhana, sedikit uang saku, dan keyakinan bahwa hidup bisa berubah jika saya mau terus belajar dan bekerja keras. 

Pagi itu saya berpamitan kepada kedua orang tua. Tidak ada acara perpisahan yang istimewa. Hanya doa yang lirih, tatapan penuh harapan, dan pesan sederhana agar saya menjaga diri baik-baik. Saya berusaha terlihat tegar. Namun jauh di dalam hati, saya tahu keputusan meninggalkan rumah bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk pertama kalinya, saya akan hidup jauh dari keluarga dan menghadapi dunia yang sama sekali belum saya kenal. 

Perjalanan saya dimulai dengan menaiki bus menuju Pelabuhan Bakauheni. Saya memilih duduk di dekat jendela. Sepanjang jalan saya lebih banyak diam. Mata saya memandangi rumah-rumah yang perlahan berganti menjadi hamparan kebun, persawahan, lalu jalan raya yang semakin ramai. Saya mencoba menikmati setiap pemandangan yang lewat, seolah-olah ingin membawa sedikit kenangan kampung halaman dalam perjalanan panjang yang sedang saya tempuh. 

Sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, suasananya begitu ramai. Waktu itu belum ada pembelian tiket secara daring. Semua penumpang harus turun dari bus dan mengantre di loket untuk membeli tiket kapal ferry. Saya berdiri di antara ratusan orang dengan tujuan masing-masing. Ada pedagang, mahasiswa, pekerja, keluarga yang hendak bepergian, dan mungkin beberapa anak muda lain yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan saya—meninggalkan rumah untuk mengejar harapan. 

Setelah tiket berada di tangan, saya berjalan menyusuri lorong jembatan menuju kapal ferry. Langkah demi langkah membawa saya semakin jauh dari daratan Lampung. Ketika kaki saya menginjak dek kapal, angin laut langsung menyambut wajah saya. Aroma air laut bercampur dengan bau besi dan mesin kapal memenuhi udara. Tak lama kemudian terdengar suara sirene panjang. Kapal mulai bergerak perlahan meninggalkan dermaga. 

Saya berdiri cukup lama di sisi kapal. Mata saya terus memandang ke arah daratan Lampung yang semakin lama semakin kecil. Ombak memecah di belakang kapal, sementara garis pantai perlahan menghilang dari pandangan. Saat itu saya benar-benar sadar bahwa saya sedang meninggalkan kehidupan yang selama delapan belas tahun menjadi dunia saya. 

Ada rasa takut yang sulit saya jelaskan. Takut gagal. Takut tidak mendapatkan pekerjaan. Takut tidak mampu bertahan. Takut mengecewakan orang tua. Tetapi di balik semua ketakutan itu ada harapan yang jauh lebih besar. Saya percaya, perubahan tidak pernah lahir dari orang yang hanya berani bermimpi. Perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk mengambil langkah pertama. 

Sekitar dua jam kemudian, kapal akhirnya merapat di Pelabuhan Merak. Perjalanan saya masih jauh. Saya kembali naik bus menuju arah Jakarta dan melanjutkan perjalanan hingga Tangerang. Jalanan semakin padat. Kendaraan semakin banyak. Gedung-gedung mulai menggantikan pemandangan sawah yang selama ini akrab dengan mata saya. Sesekali saya hanya bisa melihat keluar jendela sambil berkata dalam hati, “Jadi beginilah dunia di luar kampung saya.” 

Menjelang sore, akhirnya saya tiba di Tangerang. Dari tempat saya turun, perjalanan saya berlanjut menuju rumah adik Ibu yang sejak kecil saya panggil Bule. Di sanalah untuk sementara saya akan tinggal. Saya disambut oleh Bule dan suaminya, yang saya sapa Pakle. Ada rasa lega ketika akhirnya melihat wajah keluarga di tengah kota yang sama sekali belum saya kenal. Setidaknya, untuk sementara saya punya tempat untuk pulang setelah seharian mencari pekerjaan dan mencoba memahami kehidupan baru saya. 

Namun saya tahu, saya tidak mungkin selamanya bergantung kepada keluarga. Beberapa waktu kemudian, saya memutuskan untuk mulai kost sendiri. Keputusan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya saat itu cukup berarti. Saya mulai belajar berdiri di atas kaki sendiri, mengatur kebutuhan sendiri, dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang saya ambil. 

Di usia delapan belas tahun, saya memang belum tahu akan menjadi apa. Saya belum punya jabatan, belum punya pengalaman, bahkan belum tahu pekerjaan seperti apa yang akan saya dapatkan. Saya hanya seorang anak desa dengan sebuah ransel di punggung, ijazah SMK di tangan, dan mimpi yang belum tahu harus dimulai dari mana. 

Tetapi saya percaya, tidak semua perjalanan harus dimulai dengan peta yang lengkap. Kadang kita hanya perlu berani mengambil langkah pertama. Setelah itu, kehidupan akan mengajarkan kita ke mana harus berjalan. 

Dan ternyata, kalimat itu baru benar-benar saya pahami setelah bertahun-tahun berlalu. 

Dulu saya mengira perjalanan ke Tangerang hanya tentang mencari pekerjaan. Saya tidak pernah membayangkan bahwa keputusan sederhana untuk meninggalkan kampung halaman akan menjadi salah satu keputusan yang paling banyak mengajarkan saya tentang kehidupan. Saat itu saya hanya ingin mendapatkan penghasilan. Saya ingin mandiri. Saya ingin membantu orang tua. Saya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. 

Saya tidak tahu bahwa di balik keinginan sederhana itu, ada proses panjang yang sedang menunggu saya. 

Saya akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Saya akan menghadapi lingkungan yang berbeda. Saya akan mengalami penolakan, tekanan, kegagalan, sekaligus kesempatan. Saya akan belajar bahwa tidak semua yang kita rencanakan berjalan sesuai keinginan. Saya juga akan belajar bahwa sering kali justru dari keadaan yang tidak kita rencanakan, hidup memberikan pelajaran yang paling berharga. 

Kalau hari ini saya menoleh ke belakang dan mencoba mencari satu keputusan yang paling mengubah arah hidup saya, saya tidak langsung teringat pada saat saya menjadi Sales, dipercaya memimpin tim, atau ketika mulai membangun usaha sendiri. Jauh sebelum semua itu, ada satu keputusan yang menjadi pintunya. 

Saya memilih untuk merantau. 

Bagi saya, merantau bukan sekadar berpindah dari Lampung ke Tangerang. Merantau adalah keputusan untuk meninggalkan rasa nyaman dan masuk ke ruang kehidupan yang lebih luas. Saya meninggalkan sesuatu yang sudah saya kenal untuk memasuki sesuatu yang belum saya pahami. 

Dan mungkin di situlah letak pelajaran pertamanya. 

Kita tidak akan pernah tahu seberapa besar kemampuan kita kalau kita tidak pernah memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk menghadapi sesuatu yang baru. 

Ketika masih tinggal bersama orang tua, banyak hal dalam hidup saya berjalan secara otomatis. Ada rumah untuk pulang. Ada makanan yang tersedia. Ada orang tua yang mengingatkan. Ada lingkungan yang sudah saya kenal. Saya tidak terlalu banyak memikirkan bagaimana hidup harus dijalankan karena banyak hal sudah tersedia di sekitar saya. 

Begitu merantau, semuanya berubah. 

Tidak ada lagi ibu yang setiap saat menyiapkan makanan ketika saya lapar. Tidak ada lagi bapak yang mengingatkan saya untuk bangun pagi. Ketika uang mulai menipis sebelum tanggal gajian, saya sendiri yang harus belajar mengaturnya. Ketika menghadapi masalah, saya harus berusaha mencari jalan keluarnya sendiri. 

Di situlah saya mulai memahami bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang bertambahnya usia. Menjadi dewasa adalah ketika kita mulai berani mengambil tanggung jawab atas kehidupan kita sendiri. 

Dan rupanya, pelajaran seperti itu tidak selalu bisa kita dapatkan dari buku atau ruang kelas. 

Saya juga mulai memahami arti keluarga dengan cara yang berbeda. Saat masih tinggal bersama orang tua, masakan ibu terasa biasa. Nasihat bapak terasa biasa. Rumah terasa biasa. Tetapi ketika semuanya berada jauh dari jangkauan, saya mulai sadar bahwa hal-hal yang dulu saya anggap biasa ternyata adalah nikmat yang luar biasa. 

Jarak membuat saya belajar menghargai. 

Jarak membuat saya belajar merindukan. 

Dan jarak membuat saya memahami bahwa ada orang-orang yang mungkin tidak selalu hadir di depan mata, tetapi doanya selalu menyertai perjalanan kita. 

Semakin lama saya jalani, saya semakin menyadari bahwa merantau sebenarnya bukan hanya perjalanan geografis. Ada perjalanan lain yang jauh lebih penting: perjalanan membentuk diri. 

Saya harus belajar beradaptasi dengan orang yang berbeda. Saya harus belajar memahami karakter orang lain. Saya harus belajar mengambil keputusan dengan informasi yang terbatas. Saya harus belajar menghadapi masalah tanpa selalu berharap ada orang lain yang datang menyelesaikannya. 

Belakangan, ketika saya membaca berbagai kajian psikologi tentang adaptasi dan perkembangan diri, saya menemukan bahwa pengalaman menghadapi lingkungan baru memang dapat mendorong seseorang mengembangkan kemandirian, kemampuan mengambil keputusan, memecahkan masalah, membangun hubungan, dan menghadapi tekanan. Saya tidak memahami semua itu ketika berusia delapan belas tahun. Saya hanya menjalaninya. 

Tetapi setelah melihat ke belakang, saya sadar: ternyata kehidupan sedang melatih saya. 

Bahkan mungkin tanpa saya sadari, kehidupan sedang mempersiapkan saya untuk sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mendapatkan pekerjaan. 

Sebagai seorang muslim, saya juga menemukan semangat untuk bergerak dan mencari karunia Allah dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10, setelah perintah untuk menunaikan salat, Allah memerintahkan manusia untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia-Nya. Bagi saya, ayat itu mengingatkan bahwa ikhtiar membutuhkan gerak. Kita berdoa, tetapi kita juga harus berjalan. Kita berharap, tetapi kita juga harus berusaha. 

Dan mungkin itulah yang sedang saya lakukan pada usia delapan belas tahun. 

Saya sedang berjalan. 

Saya belum tahu akan sampai di mana. 

Saya belum tahu akan menjadi siapa. 

Tetapi saya memilih untuk berangkat. 

Saya teringat sebuah pepatah yang kemudian semakin saya pahami maknanya: “Perahu paling aman saat berada di pelabuhan, tetapi bukan untuk itu perahu dibuat.” Perahu memang lebih aman ketika diam di pelabuhan. Tidak ada ombak. Tidak ada badai. Tidak ada risiko. 

Tetapi perahu tidak dibuat untuk selamanya berada di sana. 

Begitu juga manusia. 

Kita boleh mencintai tempat kita berasal. Kita boleh merasa nyaman dengan kehidupan yang sudah kita kenal. Tetapi jangan sampai kenyamanan membuat kita berhenti bertumbuh. 

Saya tidak mengatakan bahwa semua anak muda harus merantau. Tidak. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Ada yang bertumbuh di kampung halamannya. Ada yang bertumbuh di kota. Ada yang bertumbuh melalui pendidikan. Ada yang bertumbuh melalui pekerjaan. Ada pula yang bertumbuh melalui bisnis. 

Yang saya pelajari adalah satu hal: jangan takut keluar dari zona yang membuat kita berhenti berkembang. 

Kalau ada kesempatan untuk belajar di tempat baru, jangan buru-buru takut. Kalau lingkungan yang sekarang sudah tidak memberikan ruang untuk bertumbuh, mungkin kita perlu mencari ruang yang baru. Bukan karena tempat lama tidak baik, tetapi karena mungkin perjalanan kita memang harus berlanjut. 

Bagi saya, merantau bukan tentang meninggalkan rumah. 

Merantau adalah tentang menemukan diri sendiri. 

Dan ternyata, perjalanan terjauh bukanlah perjalanan dari Lampung menuju Tangerang. Perjalanan terjauh adalah perjalanan dari diri kita yang lama menuju diri kita yang lebih dewasa. 

Hari ini saya bersyukur pernah membeli satu tiket bus menuju Tangerang. Waktu itu saya mengira saya hanya sedang mencari pekerjaan. Saya tidak tahu bahwa tiket sederhana itu membawa saya menuju begitu banyak pengalaman yang akhirnya membentuk cara saya berpikir, bekerja, berhubungan dengan orang lain, dan melihat masa depan. 

Saya belum tahu bahwa saya akan bekerja di pabrik kabel. Saya belum tahu bahwa suatu hari saya akan mencoba menjadi Sales dan mengalami penolakan. Saya juga belum tahu bahwa pengalaman-pengalaman itu nantinya akan membawa saya masuk lebih jauh ke dunia bisnis. 

Saat itu saya hanya seorang anak desa yang sedang mencari jalan. 

Tetapi mungkin memang begitu cara kehidupan bekerja. 

Kita tidak selalu diberikan peta sebelum berangkat. Kadang kita hanya diberikan keberanian untuk mengambil langkah pertama. Setelah itu, satu pengalaman membawa kita kepada pengalaman berikutnya. Satu pekerjaan memperkenalkan kita kepada pekerjaan berikutnya. Satu pertemuan mempertemukan kita dengan orang berikutnya. 

Dan tanpa kita sadari, perjalanan yang awalnya terlihat sederhana ternyata sedang menyusun cerita hidup kita. 

Perjalanan saya menuju Tangerang adalah awalnya. 

Saya belum tahu bahwa beberapa tahun setelah itu, saya akan menemukan sebuah profesi yang mengubah cara saya melihat dunia. 

Profesi yang mengajarkan saya bagaimana berbicara dengan orang. 

Bagaimana memahami kebutuhan orang lain. 

Bagaimana menghadapi penolakan. 

Bagaimana membangun kepercayaan. 

Bagaimana membaca peluang. 

Bagaimana bertahan ketika keadaan tidak sesuai harapan. 

Dan akhirnya, bagaimana memahami bisnis. 

Profesi itu adalah Sales. 

Saya baru akan memahami semua pelajaran itu bertahun-tahun kemudian. 

Tetapi semuanya bermula dari satu keputusan sederhana: berani meninggalkan rumah dan memulai perjalanan.

Posting Komentar

0 Komentar